Latar Belakang dan Keilmuan
K.H. Lamro Asyhari merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan seni bela diri dan dakwah di lingkungan pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Berasal dari Ponorogo, beliau dikenal sebagai seorang santri yang memiliki penguasaan mendalam terhadap ilmu bela diri campuran, yang meliputi teknik Karate, Yudo, dan Pencak Silat. Sebelum merintis kiprah kepelatihannya di Tebuireng, Lamro Asyhari terlebih dahulu bernaung di bawah sebuah perguruan silat bernama "Batara Perkasya", yang kelak akar sejarahnya memengaruhi nama perguruan yang ia dirikan di kemudian hari.
Awal Kedatangan dan Tantangan di Tebuireng (1980)
Kiprah Lamro Asyhari dimulai ketika ia menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng pada tahun 1980. Pada masa itu, iklim bela diri di luar pesantren sering kali membawa pengaruh yang kurang baik terhadap tingkat kedisiplinan para santri. Reputasi Lamro yang mahir dalam ilmu kanuragan dan bela diri membuatnya kerap mendapatkan tantangan adu kekuatan dari sesama santri. Tantangan ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, namun berkat kedewasaannya, friksi tersebut diselesaikan melalui kesepakatan damai. Alih-alih bermusuhan, Lamro berhasil merangkul para penantangnya untuk berlatih bela diri bersama. Pada masa-masa awal, latihan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak menimbulkan gejolak administratif di dalam pesantren.
Merintis Latihan Silat Terbuka untuk Santri
Latihan bela diri yang dipimpin Lamro awalnya hanya diikuti oleh lima orang santri pionir, yakni Khamim Kohari, Yusuf Mustofa, Lukman Hakim, Makrus, dan Gufron. Seiring berjalannya waktu, intensitas kegiatan ini diketahui dan menarik minat lebih banyak santri. Melihat antusiasme yang tinggi, Lamro beserta rekan-rekannya meminta izin secara resmi kepada pihak pengasuh pondok. Latihan ini akhirnya direstui dengan satu syarat utama: kegiatan bela diri tidak boleh mengganggu jadwal mengaji dan aktivitas sekolah formal para santri.
Lahirnya Pencak Silat NH Perkasya (1982)
Kebutuhan akan identitas dan wadah organisasi yang lebih terstruktur mendorong Lamro Asyhari untuk memformalkan latihan silatnya. Melalui proses istikharah yang dilakukan oleh KH. Syamsuri Zen, muncul usulan nama "Nurul Huda" yang berarti Cahaya Petunjuk. Lamro Asyhari kemudian mengusulkan tambahan nama "Perkasya", singkatan dari "Pertahanan Dua Kalimat Syahadat". Nama ini juga dipilih secara khusus untuk menjaga tali silaturahmi dengan perguruan lamanya, Batara Perkasya.
Puncaknya, pada 2 November 1982, Perguruan Pencak Silat Nurul Huda Pertahanan Dua Kalimat Syahadat (PPS NH Perkasya) resmi didirikan dan disahkan langsung oleh pengasuh Pesantren Tebuireng saat itu, KH. Muhammad Yusuf Hasyim. Bela diri ini beraliran YU.KA.SI (Yudo, Karate, Silat) dengan tujuan mulia untuk mencetak santri yang tangguh secara fisik, mental, dan spiritual sebagai bekal utama dalam melakukan dakwah Islamiyah.

Metodologi Kurikulum dan Ekspansi (1982–1994)
Sebagai pelatih sekaligus perintis, Lamro Asyhari merancang kurikulum kepelatihan yang sangat sistematis dan dibagi berdasarkan tingkatan sabuk. Anggota bersabuk putih difokuskan pada penguasaan materi dasar Karate, sabuk kuning mendalami teknik bantingan Yudo, sedangkan sabuk hijau ke atas mulai diajarkan materi Pencak Silat.
Pada periode perintisan ini, dedikasi Lamro sangat dominan. Ia tidak hanya mengajar eksklusif di dalam lingkungan pesantren, tetapi juga berekspansi ke luar tembok Tebuireng. Dengan menggandeng pemuda Karang Taruna Tebuireng, Lamro bersama para asistennya membuka ranting-ranting latihan baru di berbagai desa dan sekolah. Langkah ini merangkul masyarakat umum dan secara efektif menjadikan NH Perkasya sebagai instrumen dakwah yang inklusif serta wadah pemersatu pemuda.